Nestapa Korban MBG Karo: Lupa Teman hingga Ingin Bertemu Presiden

Elvinus Lusiana Sitanggang memberikan keterangan kepada media di sekitar rumah sakit tempat anaknya dirawat.
Elvinus Lusiana Sitanggang memberikan keterangan kepada media di sekitar rumah sakit tempat anaknya dirawat.. Sumber foto: bbc.com.

Bogorian.web.id - Kabupaten Karo - Hampir sebulan setelah peristiwa yang mengguncang dunia pendidikan daerah, kondisi kesehatan seorang siswi Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, dilaporkan tak kunjung membaik akibat dugaan keracunan massal. Remaja berusia 16 tahun bernama Febi Yona Purba kini harus berjuang menghadapi penurunan daya ingat yang cukup parah, gangguan saraf, hingga kesulitan dalam berbicara secara normal. Peristiwa nahas ini bermula ketika ratusan murid di wilayah tersebut menyantap menu makanan dari program makan bergizi gratis yang didistribusikan kepada para pelajar di sekolah.

Berdasarkan catatan dari berbagai sumber pemberitaan, insiden yang melibatkan ratusan pelajar tersebut terjadi pada Kamis, 13 Agustus lalu. Makanan yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Karo Berastagi Sempajaya itu dikelola oleh Yayasan Manunggal Kartika Jaya yang berada di bawah naungan Kodim 0205/Tanah Karo. Sayangnya, apa yang diharapkan menjadi penunjang kesehatan anak-anak sekolah justru berujung pada petaka medis yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar bagi para orang tua korban yang mendampingi proses pengobatan anak-anak mereka.

Sebelum insiden ini terjadi, Febi Yona dikenal sebagai siswi yang aktif, berprestasi di sekolah, serta dipercaya menjadi salah satu pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS. Namun, situasi berubah drastis sejak ia mengonsumsi makanan yang dibagikan hari itu, di mana ia sempat merasakan rasa makanan yang tidak biasa sebelum akhirnya mengalami gejala keracunan. Usai menyantap hidangan tersebut, ia merasakan gatal-gatal di sekujur tubuh, muntah hebat, lemas, hingga mengalami kejang-kejang setibanya di rumah. Keluarga yang panik lantas membawanya mendapatkan pertolongan medis pertama ke fasilitas kesehatan setempat sebelum akhirnya dirujuk ke berbagai rumah sakit yang lebih besar demi menyelamatkan nyawanya.

Perjalanan panjang pengobatan ditempuh oleh keluarga dengan berpindah-pindah fasilitas kesehatan mulai dari Puskesmas Berastagi, Rumah Sakit Umum Daerah Karo di Kabanjahe, RS Efarina Berastagi, Rumah Sakit Umum Haji Medan, hingga RSUP Adam Malik di Medan. Kendati telah ditangani oleh banyak dokter spesialis mulai dari gastro anak, neurologi anak, hingga psikiatri, pihak keluarga mengaku belum mendapatkan kepastian diagnosis yang jelas mengenai kondisi yang dialami anak mereka. Pemeriksaan melalui uji pemindaian kepala sempat dilakukan, namun hasil medis menyatakan bahwa bagian kepala dalam kondisi baik-baik saja, yang justru membuat orang tua korban semakin diliputi kebingungan dan kekhawatiran mendalam atas kondisi kesehatan anaknya yang terus memburuk.

Elvinus menceritakan bagaimana anaknya berjuang mengingat kembali orang-orang di sekitarnya akibat penurunan daya ingat yang dialami Sebagaimana dikutip dari www.bbc.com:

“Bisa sampai keringatan dia ingat nama kawan-kawannya. 'Siapa-siapa saja enggak ingat aku', katanya, akibat keracunan itu”

Elvinus Lusiana Sitanggang — www.bbc.com

Dampak psikologis dan fisik dari peristiwa ini dirasakan langsung oleh kedua orang tuanya yang terus setia mendampingi hari-hari pemulihan sang anak di sekitar rumah sakit. Sang ibu, Elvinus Lusiana Sitanggang, mengungkapkan kesedihannya ketika menceritakan kondisi putrinya yang bahkan sempat tidak mengenali anggota keluarga dekat maupun teman-teman sekolahnya sendiri. Di tengah beban biaya dan keletihan merawat buah hatinya, pihak keluarga berharap ada perhatian langsung dari pemimpin negara agar penanganan medis terhadap para korban dapat dilakukan secara transparan dan tuntas tanpa ada yang ditutup-tutupi. Harapan tersebut disuarakan agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan membawa kejelasan atas nasib para pelajar yang menjadi korban dalam program pemenuhan gizi tersebut.

Elvinus mengungkapkan rasa harunya saat mendengar keinginan sang anak yang ingin segera kembali belajar di sekolah Sebagaimana dikutip dari www.bbc.com:

“Waktu di rumah sakit dia bilang, 'Aku sudah lelah sakit, mama. Aku mau cepat sembuh biar bisa sekolah, belajar dan ketemu teman-teman'. Sedih sekali dengarnya”

Elvinus Lusiana Sitanggang — www.bbc.com

Hingga kini, keluarga bersama para korban dugaan keracunan makanan bergizi gratis di daerah tersebut masih menanti kepastian hukum serta penanganan medis yang komprehensif dari pihak berwenang. Kasus ini sekaligus membuka ruang perbaikan yang krusial bagi tata kelola pengawasan distribusi makanan bagi anak sekolah agar standar kesehatan dan keamanan pangan dapat dipenuhi secara ketat demi melindungi keselamatan generasi muda di masa mendatang.

Sumber rujukan: bbc.com, www.bbc.com, medan.kompas.com, wartakota.tribunnews.com, medan.tribunnews.com.

Menyiapkan ruang diskusi…
Lebih baru Lebih lama

Tools

News